Selamat Datang di web resmi Desa Gerbosari           Mari Makaryo Mbangun Deso

 

Sejarah Desa Gerbosari Kabupaten Kulon Progo

superadmin 06 Maret 2019 10:42:56

Setiap desa pasti memliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan pencirian khas tertentu dari suatu desa.Sejarah desa sering kali tertuang dalam kisah/cerita/dongeng dari tokoh masyarakat/pinisepuh yang diwariskan secar turun – temurun baik secara lisan maupun tertulis, sehingga yang secara lisan sulit untuk dibuktikan secara fakta.Dan tidak jarang kisah/cerita tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Dalam hal ini Desa Gerbosari juga memiliki hal tersebut yang merupakan identitas yang akan kami tuangkan dalam kisah – kisah dibawah ini.

  1. Sejarah peristiwa 07 Maret 1949 Di Samigaluh

Rumah saya menjadi rata dengan tanah (R. Ngb. Somoamijoyo)

Sejarah ini diceritakan kembali oleh R. Ngb. Somoamijoyo (77 tahun), bekas anggota Detasemen Polisi Pamong Praja yang kemudian menjabat sebagai kepala Sekolah SD Samigaluh I.

Penuturan beliau begini :

“ Pada bulan Maret 1949, wilayah Kapanewonan Samigaluh banyak didatangi oleh pejuang - pejuang Kemerdekaan dari berbagai kesatuan, antara lain dari TP (tentara Pelajar), Brigade 10, Polisi dan dari kesatuan laskar – laskar yang tidak saya ketahui namanya. Dengan segala upaya dan benda yang saya punyai, saya bantu kebutuhan mereka selama di Samigaluh. Hal ini dilakukan juga oleh segenap penduduk yang tidak biasa ikut bertempur di garis depan.

Ketika itu pemerintahan di Kapanewonan dipimpin oleh Bapak Panewu PROJONARMODO dibantu olehBapak PROJOWINARNO.Pada tahun 1949 inilah mulai dibentuk Datasemen Polisi Pamong Praja (disingkat DP3), dimana saya juga menjadi slah satu anggotanya.Dengan terbenuknya DP3 ini segenap anggotanya diwajibkan mengikuti latihan (istilah sekarangnya adalah penataran).Sebagai asramanya ditunjuk rumah saya yang kebetulan berada dekat Kantor Kapanewon. Latihan akan diselenggarakan mulai tanggal 07 Maret 1949 Dan dipimpin oleh inspektur Polisi R SOEBEKTI.

Beban saya menjadi berat, sebab saya harus mengurusi segala keperluan latihan dan juga harus ikut serta dalam latihan itu sendiri, ditambah lagi masih juga memikirkan keperluan – keperluan pera pejuang yang singgah di sekitar kapanewon.Untuk urusan dapur, saya serahkan kepada istri saya dibantu oleh seorang pembantu rumah tangga yaituMbok Pandi.

Hari permulaan latihan telah tiba yaitu pada tanggal 07 Maret 1949, harinya kalau tidak salah Senin Wage. Sejak bangun tidur saya diliputi perasaan tidak enak entah apa sebabnya. Dada saya selalu berdebar-debar dan telinga saya seolah – olah mendengar suara Miltraliur dari kejauhan. Demikian mencekamnya perasaan saya sehingga saya memerlukan bertanya pada istri saya “ Nok, apakah kamu mendengar suara tembakan Mitraliur ?” dia jawab “tidak”.

Demikian meskipun dengan perasaan tidak enak mulai mempersiapkan apa – apa yang diperlukan dalam latihan ini.

Kira – kira pukul 09.00 ketika pelajaran berupa ceramah oleh Bapak R Soebekti sedang berlangsung, datang seorang tentara (sayang sekali saya tidak dapat mengetahui nama pangkat dan kesatuannya). Tentara ini berbicara dengan Bapak Projonarmodo dan Bapak Projowinarno, kemudian keduanya pergi meninggalkan tempat latihan, kalau tidak keliru ke Gunung Bakal (sekarang SLTP 1 Samigaluh), sementara itu pelajaran ceramah berlangsung terus.Seharusnya pelajaran dihentikan pada pukul 1 (satu) siang untuk istirahat makan, tetapi karena Bapak Panewu belum juga kembali, maka ceramah diteruskan hingga pukul 3 (tiga) sore.Para peserta diberi kesempatan istirahat dan makan siang.

Sedang enak –enaknya makan siang terdengar suara pesawat terbang yang semakin dekat ke arah asrama kami.Terdorong oleh rasa ingin tahu, banyak diantara peserta berhamburan keluar untuk melihat pesawat terbang itu.Tak lama kemudian datang lagi satu pesawat terbang, sekarang ada 2 (dua) pesawat yang mengitari, merekapun pergi lagi.

             Dan diluar dugaan, malapetakapun menghampiri kami....

Dari empat peluru datang bergantian empat buah pesawat sambil menjatuhkan bom – bom, granat, dan juga menembaki kami dengan Miltraliur dari udara.Suasana menjadi kalang kabut, dibawah hujan bom, granat dan peluru. Semua orang  berusaha menyelamatkan dirinya, saya juga ikut menjatuhkan diri. Rasa – rasanya sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi, saya hanya bisa pasrah sebulat – bulatnya pada Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Hujan bom, peluru dan granat belum selesai disusul oleh hujan air yang cukup deras.Rupanya dengan turunnya hujan ini maka serangan udara dihentikan dan pesawat – pesawat jahanam itupun pergi. Lama serangan udara berlangsung selama 45 menit.

Setelah keadaan menjadi tentram saya baru berani bangkit, tetapi ketika akan bangun saya merasa dipangkuan, saya tertindih oleh sesosok tubuh dan ternyata sesosok tubuh tersebut merupakan teman saya saudara Pawiroyono, dengan sangat mengerikan.Tubuhnya penuh dengan darah dan bagian punggung sampai pantat tak berdaging, sedang di lehernya terdapat luka lebar menganga, boleh dikatakan leher itu hampir putus. Dengan bantuan istri saya yang tidak cidera sedikitpun, kami coba merawat saudara Pawiroyono, tetapi karena kehendak Tuhan Saudara Pawiroyono gugur beberapa menit setelah perawatan, inilah korban pertama yang kami ketahui.

Setelah meletakkan jenazah saudara Pawiroyono, saya dan istri saya bergegas untuk kembali menolong korban yang lainnya.Pemandangan yang saya saksikan sendiri merupakan suasana yang sangat mengerikan bagi saya. Rumah saya hancur sama sekali boleh dikatakn rata dengan tanah. Dimana – mana terdapat percikan darah.Tanah menjadi berlobang – lobang tergenang air dan darah.Bersama rekan – rekan yang masih selamat, kami menolong korban – korban yang terluka maupun gugur. Suasana menjadi menyedihkan sekali diantara  korban yang saya ketahui : saudara Pawiroyono, Ibu Sastrosudarmo beserta anak perempuannya (keduannya meninggal seketika), saudara Supardi, saudara Bedjo dan seorang anak laki – laki, kita tidak tahu mananya. Semua luka parah dan kemudian meninggal di RS Boro. Saudara Kromowitono, saudara Sarip Sutodarmo, saudara Djemu Harjoutomo, ,ketigannya luka parah bahkan kedua orang yang saya sebut pertama sampai kini terpaksa invalid.

Masih ada seorang korban lagi yang belum kami ketahui nasibnya, yaitu saudara Wiyopranoto.Beliau adalah Lurah Samigaluh yang ikut menjadi anggota DP3.Oleh keluarganya telah dicari ke rumah saudara – saudaranya dan seluruh tetangganya namun tidak ketemu juga.Maka bersama orang banyak dicarilah saudara Wiryopranoto tersebut ke lokasi pemboman, dimana memang terdapat sobekkan bekas pakaian yang dipakai saudara Wiryopranoto.Sobekannya kecil sekali tidak ada yang lebih besar dari jari tangan.Melihat ini orang – orang berkesimpulan bahwa saudara Wiryopranoto gugur, tetapi dimana jenazahnya???? Tak lama kemudian ada yang menemukan sesosok isi perut  manusia disekitar semak – semak, disusul dengan penemuan sepotong telapak kaki, setelah diteliti oleh keluarganya yakinlah bahwa isi perut dan telapak kaki tersebut merupakan milik saudar Wiryopranoto. Mereka (para keluarga) tidak pangling pada ciri – ciri telapak kaki beliau.

Demikian setelah penyerangan itu pada malam – malam berikutnya suasana disekitar itu menjadi sangat ekstrim, kalau menjelang senja orang sudah tidak berani lagi keluar rumah.

Diantar bom – bom yang telah menghancurkan rumah saya serta menimbulkan kerusakan disana sini, ada 2 (dua) bom yang tidak mau meledak yaitu yang jatuh di Masjid.Masjid Samigaluh ini terletak hanya 30 meter dari rumah saya, inilah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.Dan terhadap diri saya dan istri saya, Tuhan-pun menganugrahkan keselamatan.Ini memang menakjubkan, saudara Pawiroyono terkena demikian hebatnya, justru saya yang terhimpit dengan tidak cidera sedikitpun, demikian halnya dengan istri saya.Tak habis – habisnya saya bersyukur pada Tuhan meskipun telah kehilangan harta benda serta rumah, namun masih diberi keselamatan hingga pada tahun 1978 ini saya dapat merayakan ulang tahun emas perkawian dengan istri saya.

Demikian kisah yang saya alami dan melihat dengan mata kepala saya sendiri.Dan senyampang ada keselamatan saya ingin menambahkan disinibahwa sekitar tahun 1960 saya bersama pemuka – pemuka masyarakat Samigaluh telah mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian pada tahun 1961 ada seorang Perwira Polisi yang datang bersama anak buahnya beranjansana ke Samigaluh, sekaligus  menyerahkan bantuan berupa tenaga dan uang tunai untuk mendirikan atau menambah gedung SMP kami dengan 3 (tiga) lokal. Rumah dan kelas bantuan tadi saat ini telah tiada sebab telah diganti dengan gedung permanen yang megah.Kepada beliau lewat tulisan ini saya ikut menyampaikan terimakasih yang sebesar – besarnya sebab polisipun telah ikut menunjang kemajuan rakyat Samigaluh lewat Pendidikan.

Sekian kisah saya dan dengan ini pulalah saya sampaikan kepada Bapak Projowinarno, Bapak R. Soebekti dan Bapak Hasmeng dari Brigade 10, saya tidak tahu apakah beliau – beliau masih hidup atau sudah wafat yang terang Bapak Projonarmodo telah mendahului kita.

Sampai jumpa di Samigaluh.

Sekali merdeka Tetap Merdeka !!!!!!

  1. Asal – usul Desa Gerbosari

Pada zaman penjajahan Belanda Kalurahan Gerbosari belum berdiri, pada saat itu wilayah Gerbosari terbagi menjadi tiga Kalurahan, yaitu :

  1. Kalurahan Menggermalang

Kalurahan ini terdiri dari 6 (enam) pdukuhan, masing – masing

dipimpin oleh Prabot/Dukuh, yaitu :

  1. Pedukuhan Sumbo
  2. Pedukuhan Dukuh
  3. Pedukuhan Sendat
  4. Pedukuhan Kayugede
  5. Pedukuhan Menggermalang
  6. Pedukuhan Keceme

Dipimpin oleh Lurah : SASTROWIYONO

  1. Kalurahan Samigaluh

             Sedangkan Kalurahan ini terdiri dari 7 (tujuh) Pedukuhan masing - masing dipimpin oleh seorang Prabot/Dukuh, yaitu :

  1. Pedukuhan Ketaon
  2. Pedukuhan Ngroto
  3. Pedukuhan Clumprit
  4. Pedukuhan Jetis
  5. Pedukuhan Jati
  6. Pedukuhan Tlogo
  7. Pedukuhan Karang

Dipimpin oleh Lurah : R. REKI WIRYO PRANOTO.

Lurah ini gugur pada bulan Maret tahun 1949 saat Samigaluh di Bom Oleh Belanda.

  1. Kalurahan Kemiriombo, yang terdiri dari 6 (enam) Pedukuhan masing – masing dipinpin oleh seorang Prabot/Dukuh yaitu :
  2. Pedukuhan Sarimulyo
  3. Pedukuhan Kemiriombo
  4. Pedukuhan Jeruk
  5. Pedukuhan Manggis
  6. Pedukuhan Pengos A
  7. Pedukuhan Pengos B

Kalurahan ini dipimpin lurah SOMENGGOLO DIPOMENGGOLO.

Setelah Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, pada tahun 1947 maka diadakan penggabungan Kalurahan.Untuk Desa Gerbosari yang terdiri dari 3 (tiga) Kalurahan Manggermalang, Samigaluh, Kemiriombo pada tahun itu juga di gabung menjadi satu.

Gerbosari diambil bdari :

GER                   =   Menggermalang

BO                     =   Kemiriombo

SA                      =   Samigaluh

Ri                       =   Tambahan suku kata

  1. Legenda Desa Gerbosari

Nyai Sami dan Kyai Galuh adalah  keturunan dari Kerajaan Sigaluh Cirebon yang pada masa Penjajahan Belanda menyelamatkan diri sampai ke wilayah Gerbosari yang pada saat itu masih hutan belantara.Sampai pada saat ini petilasan dari Nyai Sami dan Kyai Galuh masih dianggap keramat, diantaranya Makam Nyi Sami yang ditemukan seorang pembantu setia Ki Condro Geni dan KI Cantang Balung.Makam ketiganya teletak di Punggang Kresek Pedukuhan Karang.Sedangkan Kyai Sami yang menetap di Krajan Dukuh sampai wafatnya dan dimakamkan di Makam Krajan Pedukuhan Dukuh.

Dari Nyai Sami dan Kyai Galuh inilah yang dianggap sebagai Cikal Bakal Kalurahan Samigaluh (Gerbosari Tengah).

Dan akhirnya diberi nama Samigaluh ditetapkan sebagai nama Kecamatan paling Utara dari Kabupaten Kulon Progo.

  1. Legenda Sedowayah

Nama Sedawayah adalah salah satu tempat yang termasuk di legendakan oleh masyarakat, yang terletak diantara Pedukuhan Karang, Jetis dan Clumprit.

Konon tempat tersebut di namakan wayah Pangeran Diponegoro pada saat Perang Diponegoro melawan Belanda menyelamatkan diri sampai wilayah tersebut.Pada saat itu kuda yang dinaiki tergelincir sehingga mengakibatkan wayah Pangeran Diponegoro meninggal (sedo), sehingga untuk mengenang disebut Sedowayah.

  1. Legenda Gunung Bakal

Gunung Cikal Bakal terletak di perbatasan Desa Gerbosari dan Desa Ngargosari. Konon ceritanya diatas Gunung Bakal akan dibangun sebuah candi, namun gagal dan menurut penuturan para Pinisepuh batu – batuyang akan dipakai membuat candi baru sampai Pedukuhan Sendat dan Karang. Memang kenyataan kedua Pedukuhan tersebut banyak batu – batu besar.Gunung Bakal tersebut terletak di Pedukuhan Jetis dan Canden.

Diatas Gunung Bakal terdapat sebuah makam yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.Makam tersebut bernama Makam Panembahan Saloka Joyo.

  1. Legenda Temenggung Tringsingan

Legenda ini belum tahu asal – usulnya hanya Pedukuhan Menggermalang terdapat makam yang dikeramatkan.Konon makam tersebut adalah Makam Temenggung Tringsingan.

  1. Legenda Dadung Awuk

Legenda Dadung Awuk dipercayai oleh masyarakat sekitar bekas Kalurahan Kemiriombo.

Konon Dadung Awuk adalah Jin (makluk ghoib) pamong dari Rojokoyo di wilayah tersebut.Memang kenyataannya daerah  bekas Kalurahan Kemiriombo adalah termasuk lahan kritis/kering/tandus berbatu – batu tetapi para petani (sapi, kambing) berhasil dalam ternak Rojokoyo.Ceritanya pada waktu tertentu ada suara ghoib dan para hewan ternak khususnya sapi dan kambing menghadap ke arah asal suara tersebut.

  1. Daerah Wisata Suroloyo

9.1. Letak Wilayah dan Keadaan Alam

Bukit Suroloyo terletak di perbukitn Menoreh dengan ketinggian sekitar 1000m dari permukaan laut, termasuk wilayah Gerbosari Utara tepatnya di Pedukuhan Keceme.

Suroloyo mempunyai Panorama Alam yang sangat indah dan mengagumkan, dari atas bukitnya dapat memandang ke Utara terlihat dataran tinggi Kabupaten Temanggung dan Magelang dengan Candi Borobudur, Mendut, Pawon dan Gunung Tidar (paku tanah Jawa) byang dilatar be;lakangi oleh Gunung Merapi, Merbabu, Sundoro dan Sumbing.

Memandang ke Timur tampak dataran rendah Sleman, Bantul, Samodra Indonesia serta Candi Prambanan, Kalasan, Gunung Merapi, Samas, Parang Tritis dan berkelok – keloknya Sungai Progo.

Memandang ke Selatan tampak pantai sepanjang Kabupaten Kulon Progo dengan lautan dikaki laut jauh ke selata, sedang arah Barat tampak lekuk perbukitan Menoreh yang menghijau. Panorama bukit Suroloyo ini tampak indah, juga pada malam hari karena mana memandang jauh tampak gemerlapan lampu di dataran rendah yang  bagaikan tersebarnya mutu manikan dipersada bumi tercinta ini. Lebih – lebih menjelang fajar matahari terbit di ufuk Timur betul – betul sangat indah. Panorama Suroloyo diatas  menjadiwisata alam dengan hamparan perkebunan teh yang tiada kalah indahnya kalau dibandingkan dengan wisata alam di daerahmanapun.

9.2. Suroloyo dengan legenda yang  banyak dipercayai.

9.2.1 Riwayat lama

Konon Suroloyo adalah Khayangan para Dewa – dewi, disitulah Bethara Guru bersemayam dengan dibantu Patih Kaneko Putro serta para Dewa dan Bidadari, sehingga Suroloyo dianggap tempat suci dan keramat.

Untuk mencapai pucak Suroloyo ini sudah di bangun gardu – gardu pandang dan jalan Trap sampai ke Puncaknya.

Disekitar bukit Suroloyo terdapat tempat – tempat keramat yang masih dihormati dan dipercayai, seperti :

  1. Puncak Sariloyo
  2. Tegal Kepanasan
  3. Sendang Kawidodaren
  4. Sendang Kadewtan
  5. Sendang Simbar Joyo
  6. Pertapaan Indrakilo
  7. Pertapaan Mintorgo
  8. Enceh Suci (dahulu ditemukan 2 enceh/padasan batu)
  9. Lawang Selomatangkep dan Kaendran.

Puncak Suroloyo sering didatangi wisatawan yang mempercayai sebagai tempat Samadi untuk mendekatkan diri kepada HyangWidiwasa.

Disamping itu menurut Kitab Cibolek diceritakan kisahnya sebagai berikut :

Raden Mas Rangsang (Kanjeng Sultan Agung pada masa mudanya) sedang tidur di bangsal keratin, kedatangan seoarang tinggi besar yang berpakaian hitam – hitam yang berkata “Kaki Wruhono Siro iku calon Ratui kang nguwasani satanah Jowo, mulo ojo mung enak kepenak sing gedhe prihatinmu, peparano mangulon bener ojo leren yen durung entek kekuatanmu” menjawablah R.M. Rangsang : ; siapakah paduka “ jawab orang tersebut “  Aku Kanjeng Sunan Kalijogo”.

Maka berangkatlah R.M. Rangsang ke arah  barat, naikturun gunung dan akhirnya sampailah disuatu bukit yang tinggi dan habislah kekuatannya dan jatuh pingsan, setelah sadar didekatnya berdiri seorang yang sangat tampan sambil berkata “Aku Jin, jenengku Raden Janoko, siro mertopo ing papan iki yen kepengen nguwasani Tanah Jowo”. Akhirnya R.M. Rangsang bertapa dilereng bukit Suroloyo yang dikenal dengan Pertapan Indrokilo.

9.2.2.Upacara Adat yang masih berlaku.

  1. Tanggap Warso tahunJawa setiap tanggal 1 Syuro.
  2. UpacaraKirap dan Jamasan Pusaka Kraton Paringan dalem Sultan Hamengkubuwono IX Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo dari tempat Pusaka disimpan, ke sendang Kawidodaren yang jauhnya ± 1 km, setiap bulan Suro tanggal 1 Syuro.
  3. Bersih dusun warga Pedukuhan Keceme setiap bulan Agustus.
  4. Saparan setiap bulan Sapar.

9.2.3. Prasarana jalan menuju lokasi Suroloyo

  1. Lewat Samigaluh – Totogan Lawang Selomatangkep 2 km aspal 1 km dengan berjalan kaki.
  2. Samigaluh – Menggermalang jalan aspal dilanjutkan jalan kaki lewat Gunung Jaran dan Rajeg Wesi sepanjang 1 km dengan pemandangan yang indah.
  3. Samigaluh – Mengermalang – Sidoharjo Suroloyo jalan aspal Roda Empat.
  4. Kalibawang – Bendo Tanjung – Suroloyo kendaraan Roda Empat.

Kawasan Suroloyo mulai dibuka dan diresmikan sebagai tempat Wisata Suroloyo (Agro Wisata) pada hari Rabu Kliwon tanggal 1 Suro  tahun Be 1888 atau tanggal 8 Agustus 1956 oleh panitia yang diketuai oleh Bapak Penewu Rosyid Hadi Pranoto (Camat Samigaluh).

  1. Sejarah Pemerintahan Desa Gerbosari

Sedangkan Desa Gerbosari terdiri dari 19 Pedukuhan hasil penggabungan 3 (tiga) Kalurahan lama, yaitu :

  1. Sarimulyo Tlogo
  2. Kemiriombo Jati
  3. Jeruk             Sumbo
  4. Manggis             Dukuh
  5. Pengos A             Sendat
  6. Pengos B             Kayugede
  7. Ketaon                         Menggermalang
  8. Ngroto                         Keceme
  9. Clumprit
  10. Karang
  11. Jetis

 

Dari tahun 1947 sampai  dengan 1999 disebut Dusun dipimpin oleh Kepala Dusun. Sedangkan pada tahun 1999 sampai dengan 2006 Dusun diganti menjadi Pedukuhan dan dipimpin oleh seorang Dukuh.

Untuk nama Desa/Kelurahan sejak tahun 1947 sampai sekarang telah dirubah namanya 4 (empat) kali

  1. Tahun 1947 – 1975 Disebut Kalurahan dipimpin oleh Lurah
  2. Tahun 1975 – 1999 Disebut Desa dipimpin Kepala Desa
  3. Tahun 1999 – 2006 Disebut Desa dipimpin Lurah Desa
  4. Tahun 2006 – 2014 Disebut Desa dipimpin Kepala Desa

Desa Gerbosari yang luas wilayahnya 966.3465 ha tediri dari 19 Pedukuhan, 75 RT dan 38 RW. Sejarah kepemimpinan pemerintahan Desa Gerbosari

  1. Tahun 1047 – 1975 Dijabat oleh Lurah      NOTO SUDIRO
  2. Tahun 1975 – 1990 Dijabat oleh Lurah      NOTO SUDIRO

                                 Diberlakukannya UU No.5 tahun 1975

  1. Tahun 1990 – 1999 Dijabat oleh Kepala DesaNy. Dasilah Supriyo
  2. Tahun 1999 – 2008 Dijabat oleh Kepala Desa Ny. Dasilah Supriyo
  3. Tahun 2008 – 2014 Dijabat oleh Kepala Desa Sukardi. Amd
  4. Tahun 2014 – 2015 Dijabat oleh PJ Kades Saronto, BA
  5. Tahun 2015 – 2021 Dijabat oleh Kepala Desa Damar, A.Md

Sumber: dok rpjm 2016-2021

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Website Desa ini :
Terbaik 1 Jumlah Artikel Bulan November Tahun 2019

Website Desa ini :
Terbaik 2 Jumlah Pengunjung Bulan November Tahun 2019

Peta Desa

Wilayah Desa

Aparatur Desa

Kepala Desa Sekretaris Desa Kasi Pemerintahan Kasi Pembanguanan & Pemberdayaan Kaur Perencanaan & Keuangan Kasi Kemasyarakatan Kaur Umum Aparatur Desa & Aset Staff Desa Staff Desa Staff Desa

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookInstagram

Lokasi Kantor Desa

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung